kingsheadwye.com

Dukung Kudus Bebas Stunting 2030, MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 Hadirkan Layanan Kesehatan Inklusif dan Hiburan Keluarga

​Digagas oleh Bakti Sosial Djarum Foundation dan MilkLife bersama Pemerintah Kabupaten Kudus, festival ini mengusung semangat “Jaga Generasi Emas, Merdeka Lawan Stunting."

Baca Juga: Gandeng Kaum Muda hingga Pemanfaatan Pangan Lokal, Program PASTI Perkuat Aksi Cegah Stunting di Kubu Raya

Menggabungkan konsep edukasi gizi, pelayanan medis gratis, serta ragam permainan dan hiburan interaktif, gelaran ini dirancang untuk menciptakan kesadaran hidup sehat lewat suasana yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga.

​Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyampaikan apresiasinya atas konsistensi penyelenggaraan acara ini.

Dampak nyata dari kemitraan strategis tersebut terlihat dari penurunan angka stunting di wilayah Kudus yang terbukti signifikan dalam dua tahun terakhir.

​"Kami ucapkan terima kasih kepada Bakti Sosial Djarum Foundation yang terus mengawal program-program keluarga sehat dengan penurunan stunting sangat signifikan, yang sebelumnya 4,08% menjadi 3,04%. Artinya dengan adanya program ini sejak tahun 2024 dampaknya sangat positif terhadap penurunan angka stunting di Kudus,” katanya.

​Sam’ani optimis kolaborasi lintas sektor ini mampu membawa Kabupaten Kudus mencapai target zero stunting pada tahun 2030 mendatang.

​“MilkLife Keluarga Sehat terbukti luar biasa dampaknya. Semoga dengan ada edukasi dan pelayanan seperti ini masyarakat bisa semakin sadar arti kesehatan keluarga. Kami harapkan seluruh pihak bisa meneruskan informasi ini sampai ke tingkat desa maupun RT. Mari kita sukseskan generasi emas, cegah stunting dan semoga di tahun 2030 Kabupaten Kudus zero stunting,” tambahnya.

​Selama dua hari pelaksanaan, pengunjung dapat memanfaatkan beragam fasilitas medis gratis secara inklusif. Layanan tersebut mencakup pemeriksaan kehamilan (USG), pemantauan tumbuh kembang balita, screening anemia bagi remaja dan calon pengantin, hingga pemeriksaan triple elimination (HIV, Sifilis, dan Hepatitis B).

Tak hanya fisik, kesehatan mental warga juga diperhatikan lewat konseling bersama psikolog klinis serta dokter umum.

​Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad Budiharto, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mendampingi warga Kudus hingga target bebas stunting tercapai.

​“Kami ingin Kudus menjadi salah satu kabupaten terbaik dalam penanganan kesehatan dan juga stunting. Maka dari itu kami siap mendukung untuk menjadikan Kudus zero stunting di tahun 2030. Kami mulai membiasakan supaya mereka (orangtua) tahu yang terbaik untuk putra-putrinya. Pada intinya, kami ingin memberi kontribusi positif bagi warga Kudus, karena kami lahir dan besar di Kudus,” tuturnya.

Baca Juga: Sinergi PAM Jaya dan WCR Siapkan Generasi Penerus Bangsa Bebas Stunting

​Di sisi lain, kemasan acara yang ramah keluarga menjadi kunci utama agar pesan-pesan kesehatan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

“Kami ingin Festival Keluarga Sehat menjadi ruang yang fun, sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai kesehatan jasmani, tetapi juga dapat menikmati berbagai hiburan bersama keluarga. Di sisi lain, pemenuhan nutrisi dan gizi seimbang juga berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang, termasuk dengan mengonsumsi susu berkualitas,” kata ​Field Promotion Manager, Danang Adityo Pramandaru.

​Dari sudut pandang medis, pemantauan gizi secara konsisten sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah pondasi utama pencegahan stunting. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Abdul Hakam, M.Si, Med, Sp.A, mengapresiasi pencapaian angka stunting Kudus saat ini yang sudah jauh di bawah ambang batas standar WHO (10%).

​"Sebenarnya standar maksimal stunting yang direkomendasikan oleh WHO adalah di bawah 10%. Kita bersyukur Kabupaten Kudus sudah di angka 3%. Ini suatu prestasi yang luar biasa dan kita harus maksimalkan. Jadi kita targetnya bagaimana nanti secara bertahap di 2027 mencapai 2%, 2028 sampai 2029 mungkin ya 0,3% atau 0,9%, karena memang pasti masih akan ada (stunting). Tapi kami usahakan bersama nanti bagaimana menembus 0% sesuai target pak Bupati di 2030,” ujarnya.

​dr. Abdul Hakam memaparkan bahwa pemenuhan gizi seimbang dan perbaikan sanitasi lingkungan menjadi fokus krusial yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

​“Bagaimanapun sanitasi juga penting karena kaitannya dengan munculnya penyakit. Kalau itu teratasi, pasti secara maksimal problem stunting turun. Selain itu juga program lain, baik itu imunisasi, tumbuh kembang, serta pemeriksaan 1.000 hari kehidupan juga harus digalakkan. Kemudian potensi adanya anemia ini cukup berdampak. Edukasi peningkatan gizi terhadap konsumsi daging merah seperti kerbau, kambing, sapi, dan ampela juga tak kalah penting, untuk dikonsumsi tiga sampai lima kali dalam seminggu, terutama untuk ibu hamil,” sambungnya.

​Kehadiran festival ini dirasakan langsung kemanfaatannya oleh masyarakat, salah satunya Lusi Rahmawati, warga Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

​“Acaranya bagus dan fasilitas yang disediakan juga sangat memadai. Kita jadi banyak dapat pengetahuan baru soal pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengenai gizi dan tumbuh kembang. Tadi juga sempat screening anemia, jadi saya bisa berkonsultasi dengan leluasa dan penyampaian hasil screening-nya juga jelas,” ujar ibu dua anak tersebut saat mendatangi booth Hunian Sehat dan pemantauan tumbuh kembang anak.

​Keseruan festival semakin lengkap dengan hadirnya jajaran kegiatan menarik, seperti Jalan Keluarga Sehat – Parade Gizi Hebat, lomba estafet isi piringku, lomba mewarnai, taman eksplorasi sensorik anak, panggung musik, hingga pertunjukan wayangan humor. Acara dipungkas dengan pengundian doorprize utama berupa satu unit motor listrik Polytron Fox R 350.

Sebelum puncak festival digelar, rangkaian kegiatan ini telah

diawali lewat program pra-acara sejak 19 Juli hingga 9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut meliputi Aksi Rumah Resik Sehat (SIKAT) yang diikuti 2.311 warga dari Desa Wonosoco, Desa Gribig, Desa Mejobo, dan Desa Klaling, serta aksi Belanja Pinter Gizine Bener (BPGB) untuk memandu warga memilih bahan pangan kaya nutrisi.