kingsheadwye.com

Energi Terbarukan Jadi Kunci Daya Saing Ekonomi Indonesia

Hal tersebut mengemuka dalam peluncuran film dokumenter Energi untuk Negeri, hasil kolaborasi Climate Policy Initiative (CPI) dan Media Indonesia.

Film tersebut mengangkat isu transisi energi sekaligus pembiayaan dan investasi yang dibutuhkan untuk mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi yang lebih bersih.

Baca Juga: MPR: Arsip Jadi Rekam Jejak Perjalanan Indonesia Membangun Negara

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno mengatakan, transisi energi merupakan sebuah keharusan bagi Indonesia.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap energi fosil, sementara potensi energi terbarukan di dalam negeri cukup besar untuk dikembangkan.

"Pesan utamanya adalah pertama, bahwa transisi energi itu adalah keharusan bagi kita. Kedua, bahwa transisi energi ini langsung membantu, mendukung program untuk kita mengurangi emisi gas rumah kaca demi memperbaiki kualitas udara, polusi, dalam rangka untuk mengurangi dan mengendalikan krisis iklim yang kita hadapi sekarang ini," kata Eddy dalam Peluncuran Film Dokumenter 'Energi untuk Negeri' di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Menurut Eddy, transisi energi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah, masyarakat, dan pemerintah daerah, tetapi juga pelaku industri.

"Ini adalah semua kewajiban masyarakat. Jadi kita semua tidak terkecuali pemerintah, masyarakat, tokoh-tokoh dari daerah semuanya harus berkontribusi untuk melakukan penanganan krisis iklim melalui, salah satunya, transisi energi," ujarnya.

CPI melihat persoalan transisi energi dari sisi yang lebih luas, yakni keterkaitannya dengan pembiayaan dan investasi.

Direktur CPI, Tiza Mafira mengatakan, film tersebut sengaja menghadirkan sejumlah narasumber dari sektor keuangan, regulator, pasar modal, hingga ekonom.

Menurut Khalisha, pesan yang ingin disampaikan adalah transisi energi dapat meningkatkan daya saing Indonesia pada masa mendatang.

Namun, persoalan pembiayaan pada tahap awal tetap menjadi salah satu tantangan yang harus disiapkan.

"Yang semuanya mengatakan bahwa transisi energi itu perlu untuk dilakukan karena itu akan meningkatkan daya saing Indonesia di masa depan. Hanya saja memang harus dipikirkan pembiayaannya seperti apa di awal dan instrumen-instrumen pembiayaannya seperti apa," kata Khalisha.

Dirinya juga menyoroti anggapan bahwa energi terbarukan membutuhkan biaya yang lebih mahal dibandingkan energi fosil.

Menurutnya, biaya perlu dilihat dalam perspektif jangka panjang karena sumber energi terbarukan seperti matahari, angin, dan air tidak membutuhkan biaya bahan bakar seperti energi fosil.

"Misalnya bahwa mitos bahwa energi terbarukan itu mahal. Nah, itu di dalam film ini dijelaskan bahwa itu sebenarnya adalah penghematan jangka panjang. Karena sumber energinya itu tidak bayar, gratis ya. Sumber energinya adalah matahari, adalah angin, adalah air," ujarnya.

Dengan demikian, investasi pada energi terbarukan tidak hanya dilihat dari besarnya modal awal untuk membangun teknologi dan infrastrukturnya.

Efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang juga menjadi bagian dari pertimbangannya.

Khalisha juga menilai perkembangan investasi energi bersih membuat transisi energi semakin relevan dengan agenda investasi global.

Menurutnya, Indonesia perlu mempersiapkan kapasitas energi terbarukan agar tidak tertinggal dalam kompetisi mendapatkan investasi.

"Yang menjadi incaran oleh investor, baik itu asing maupun domestik, adalah investasi-investasi yang mampu ditenagai oleh energi hijau, oleh energi terbarukan," katanya.

Dirinya menyebut investasi global pada energi terbarukan telah berkembang dan perlu dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat daya saing.

"Justru itu investasi terbesar ya bagi energi terbarukan. Investasi ke energi terbarukan dua kali lipat jumlah investasi ke energi terbarukan dibandingkan investasi ke fossil fuel di dunia ini sekarang ini," ujar Khalisha.

Baca Juga: Lima Langkah Nyata Pemprov Kalsel Bersatu Padu Padamkan Karhutla

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transisi energi memiliki dimensi ekonomi yang semakin kuat.

Bagi Indonesia, ketersediaan energi bersih bukan hanya berkaitan dengan target pengurangan emisi, tetapi juga dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan industri dan investasi.

Tantangan transisi energi juga tidak berhenti pada pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.

Menurut Khalisha, sektor industri yang memiliki konsumsi energi besar juga memiliki ruang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Dirinya mencontohkan kawasan industri maupun sektor pertambangan yang menggunakan energi dalam jumlah besar. Menurutnya, sebagian kebutuhan energi tersebut dapat mulai dipenuhi dari sumber energi terbarukan.

"Beberapa teknologi, beberapa industri sekarang yang sebenarnya sangat besar penggunaan energinya, itu juga bisa ditenagai oleh energi terbarukan," kata Khalisha.

Dirinya menekankan, pengembangan industri energi terbarukan juga harus memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksi bahan baku maupun teknologinya.

"Kalau sumber yang dipakai untuk membuat teknologi energi terbarukan itu sendiri adalah bagian dari industri ya, itu harus memenuhi kaidah-kaidah responsible mining, responsible industry," ujarnya.

Dengan demikian, transisi energi tidak berarti menghilangkan persoalan lingkungan secara otomatis. Pengembangan industri pendukung energi bersih tetap membutuhkan tata kelola yang bertanggung jawab.

Aktris sekaligus aktivis lingkungan Nadine Chandrawinata mengatakan transisi energi perlu dipahami sebagai proses yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Menurutnya, masyarakat dapat memulai perubahan dari langkah yang sederhana, sementara pemerintah dan industri memiliki peran melalui kebijakan serta inovasi.

"Transisi energi itu sebenarnya real ya. Bukan sesuatu yang sulit, tapi memang butuh proses untuk menjadi sesuatu yang berdampak besar sekali," kata Nadine.

Dirinya mengatakan komunitas memiliki peran untuk menyosialisasikan isu lingkungan, sementara masyarakat dapat menerapkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

"Jadi semua punya perannya masing-masing sebenarnya. Kapan dilakukan? Ya apa yang bisa dilakukan, dilakukan dulu. Selebihnya, kita nikmati apa yang udah kita usahakan," ujarnya.

Nadine juga menilai kebijakan pemerintah dan keterlibatan industri menjadi bagian penting dalam mempercepat perubahan.

"Krisis iklim itu sekarang, bukan karena ada perubahan. Bumi kan selalu berubah, tapi krisis itu bisa kita kurangi gitu, dengan cara ya melakukan sebuah penegasan dengan kebijakan pemerintah yang jelas arahnya," katanya.

Eddy berharap isu transisi energi tidak berhenti pada kampanye atau peningkatan kesadaran masyarakat.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat transisi energi, semakin besar pula dukungan terhadap kebijakan dan pembangunan ekonomi yang berbasis energi bersih.

"Kita sangat berharap bahwa semakin banyak lagi masyarakat yang tertarik untuk memahami tentang isu-isu transisi energi yang kita hadapi, apa positif dari transisi energi tersebut, sehingga masyarakat tergerak dan memiliki kepedulian untuk melakukan transisi energi," kata Eddy.

Dirinya menilai dukungan tersebut dibutuhkan agar transisi energi dapat menjadi bagian dari agenda pembangunan ekonomi Indonesia.

"Ini adalah dukungan yang sangat positif yang sangat diperlukan agar transisi energi ini menjadi agenda utama untuk pengembangan dan pembangunan ekonomi kita ke depannya," lanjutnya.

Sementara itu, CPI berharap film dokumenter Energi untuk Negeri dapat menjadi bahan diskusi publik mengenai transisi energi, termasuk di kampus dan komunitas.

Khalisha mengatakan film tersebut dapat digunakan secara gratis sehingga masyarakat maupun institusi dapat memanfaatkannya sebagai bahan edukasi.

"Menjadi bahan diskusi bagaimana kita bersama-sama ya bisa mewujudkan transisi energi di Indonesia sehingga kita tidak lagi bergantung pada minyak bumi, batu bara, dan gas yang harganya volatile," ujarnya.

Menurutnya, ketergantungan terhadap energi fosil juga membuat biaya energi rentan terhadap dinamika global.

"Setiap kali ada perang pasti naik harganya, setiap kali ada krisis di Timur Tengah pasti naik harganya. Kita tidak bergantung pada itu, tapi kita bergantung pada sumber daya alam kita sendiri," kata Khalisha.