Karhutla Jadi Perhatian, Kemenpar Terus Pantau Kondisi Destinasi Wisata
Jakarta -
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak buruk pada berbagai aspek, tak terkecuali pariwisata Indonesia. Penanganan kebakaran yang tanggap diharapkan bisa mempercepat pemulihan kawasan dan membuat aktivitas wisata kembali berjalan aman.
Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Kementerian Pariwisata, Hafiz Agung Rifai, mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan koordinasi dan memantau terus perkembangan situasi secara berkala.
"Kalau dengan adanya karhutla, memang kita masih memantau situasi ya. Perkembangannya seperti apa, tapi dengan adanya penanganan-penanganan ini, kami harap semakin cepat teratasi, dan semoga juga pariwisatanya bisa cepat pulih," ujar Hafiz di Kantor Kementerian Pariwisata, Jumat (23/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang diketahui, karhutla terjadi di beberapa destinasi di Indonesia. Sebagai contohnya terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
Terkini, empat pintu masuk ditutup mulai 24 Oktober 2026 hingga pemberitahuan lebih lanjut untuk mendukung penanganan kebakaran. Empat pintu masuk tersebut adalah Tanjung Harapan, Natai Lengkuas, Sungai Buluh Kecil, dan Sungai Buluh Besar.
Sementara itu, wisata ke Pondok Tanggui dan Camp Leakey masih dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Menghimbau kepada masyarakat, pengunjung dan pelaku jasa wisata untuk tidak melakukan aktivitas wisata di lokasi tersebut dan agar memperhatikan penggunaan api untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan demi keamanan, keselatan, dan kenyamanan bersama," kata Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Yohan Hendratmoko beberapa waktu lalu.
Adapun, karhutla juga di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Destinasi seperti di kawasan Panjakan kini telah dibuka kembali per hari ini setelah dilakukan pembatasan akibat kebakaran.
Dilansir dari CNN Indonesia, Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyampaikan keputusan dibuka kembali kawasan Pananjakan berdasar pada pengembangan situasi dan penilaian petugas di lapangan.
"Berdasarkan perkembangan dan hasil pemantauan di lapangan telah menunjukkan bahwa tidak ditemukan lagi titik api. Sehingga akses wisata di area Pananjakan yang sempat dibatasi dibuka kembali pada 23 Oktober 2026)," ucapnya.
(upd/wsw)