Mahasiswa UI perkuat kesejahteraan psikologis lansia di Yayasan Panti Jompo Bekasi - ANTARA News Megapolitan
Depok (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengembangkan Wreda-Perma, program pendampingan bagi 40 lansia di Yayasan Panti Jompo Wijaya Kusuma, Bekasi dengan memadukan edukasi pencegahan diabetes dan penguatan kesejahteraan psikologis.
"Upaya mencegah diabetes pada lansia perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pengendalian gula darah, tetapi juga dengan memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi psikologis," kata Ketua Tim, Nela Nurul Mutoharoh di Depok, Senin.
Program ini digagas Nela Nurul Mutoharoh dari Ilmu Keperawatan sebagai ketua tim, bersama Fadila Safarina dari Kesehatan Masyarakat, Nisa Angreini dan Alfina Firdhania dari Terapi Okupasi, serta Annisah Putri Setiawan dari Produksi Media. Tim didampingi Dr Ns Dwi Cahya Rahmadiyah, dosen Fakultas Ilmu Keperawatan UI.
Menurut Nela, Wreda-Perma dirancang berdasarkan kondisi kesehatan dan psikososial penghuni panti. Dari 40 lansia berusia 56-87 tahun, enam orang memiliki risiko tinggi diabetes melitus dan empat orang telah terdiagnosis diabetes.
Pada saat yang sama, layanan kesehatan di panti yang berdiri sejak 2019 dan dikelola secara mandiri masih terbatas. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sebulan sekali, sementara edukasi gizi berkelanjutan, aktivitas fisik terstruktur, dan dukungan psikologis belum tersedia.
"Observasi kami menemukan sejumlah lansia menunjukkan tanda stres dan kecemasan, seperti mudah tersinggung, agresif, hingga menarik diri dari interaksi sosial. Kondisi psikososial seperti kesepian, isolasi, dan stres dapat memengaruhi kesehatan serta meningkatkan risiko penyakit kronis," kata Nela.
Karena itu, Wreda-Perma tidak menempatkan pencegahan diabetes sebagai persoalan pola makan semata, tetapi menghubungkannya dengan kesejahteraan lansia secara menyeluruh.
Pada aspek Positive Emotion, lansia diperkenalkan dengan teknik pernapasan 3-6-8, butterfly hug, dan teknik lima jari untuk membantu mengelola stres secara mandiri.
Aspek Engagement diwujudkan melalui mini garden hidroponik yang dirawat bersama. Selain menjadi aktivitas fisik ringan, kegiatan tersebut memberi pengalaman bagi lansia untuk terlibat dalam aktivitas produktif hingga tanaman siap dipanen.
Pada aspek Relationships, edukasi Isi Piringku dilakukan secara berkelompok. Lansia menggunakan stiker ilustrasi makanan untuk memahami komposisi makanan yang lebih seimbang.
Sementara itu, aspek Meaning dikembangkan melalui sesi berbagi cerita mengenai pengalaman hidup yang paling berharga. Adapun Accomplishment dibangun melalui pengalaman merawat tanaman hingga tumbuh dan menghasilkan panen.
Program ini juga dilengkapi pengukuran untuk melihat perubahan kondisi lansia. Evaluasi dilakukan melalui pemeriksaan gula darah serta skrining kognitif dan status nutrisi menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE) dan Mini Nutritional Assessment (MNA).
Hasil evaluasi emosional turut didokumentasikan sebagai bahan bagi pengelola panti dalam memahami kebutuhan pendampingan lansia.
Tim menargetkan sedikitnya 80 persen lansia mampu mempraktikkan teknik relaksasi secara mandiri dan 75 persen mengalami peningkatan pemahaman gizi setelah mengikuti edukasi Isi Piringku.
Selain hasil pengukuran, program ini menghasilkan buku saku caregiver, pedoman bagi pengelola panti, lembar aktivitas emosional, akun media sosial, serta buku kumpulan cerita lansia berjudul Untuk Hidup yang Lebih Panjang dan Bahagia.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.