Negara-Negara Kaya Terancam, Intelijen Dunia Satukan Kekuatan
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat dan negara sekutunya memperingatkan aksi peretasan yang dilakukan kelompok hacker Rusia. Kelompok tersebut mencuri email pengguna layanan Zimbra tanpa perlu menipu korban agar membuka lampiran atau mengklik tautan berbahaya.
Perusahaan keamanan siber Proofpoint menyebut serangan itu sebagai "half-click exploit". Hacker memanfaatkan celah keamanan pada perangkat lunak Zimbra yang kini telah ditambal untuk mengambil alih sistem setelah pengguna hanya membuka sebuah email.
"Tidak diperlukan rekayasa sosial," kata Proofpoint dalam sebuah unggahan blog yang menguraikan kampanye peretasan tersebut, dikutip dari Reuters, Jumat (24/7/2026).
Dalam peringatan keamanan setebal 31 halaman, badan kepolisian dan intelijen dari AS, Belanda, Kanada, Inggris, Australia, Selandia Baru, Denmark, Republik Ceko, serta sejumlah negara Eropa lainnya menuding kelompok hacker yang didukung pemerintah Rusia, Laundry Bear, sebagai dalang kampanye mata-mata tersebut.
Menurut mereka, kampanye itu awalnya menyasar Ukraina secara besar-besaran sebelum menargetkan pengguna di AS dan negara-negara anggota aliansi militer NATO lainnya.
"Hal ini sangat mengkhawatirkan karena para preman ini menguji metode mereka pada korban di Ukraina sebelum menargetkan anggota NATO," kata Menteri Keamanan Inggris Dan Jarvis dalam sebuah pernyataan.
Laundry Bear menjadi salah satu dari sejumlah kelompok hacker yang dituding AS bekerja untuk badan keamanan Rusia. Tuduhan AS yang diajukan bulan ini mengaitkan kelompok tersebut dengan perusahaan keamanan siber Rusia bernama Yutek-NN.
Wakil Direktur Yutek-NN, Denis Obrezko, menghadapi dakwaan terkait peretasan di Boston setelah ditangkap di Thailand tahun lalu. Dia mengaku tidak bersalah atas dakwaan tersebut.
Kedutaan Besar Rusia di Washington belum segera menanggapi permintaan komentar. Yutek-NN juga belum merespons sejumlah permintaan komentar. Moskow biasanya membantah keterlibatan dalam kampanye peretasan.
Zimbra dan pemiliknya, Synacor yang berbasis di Buffalo, New York, juga belum dapat segera dimintai komentar.
Seperti pengumpul intelijen digital lainnya, mata-mata siber Rusia secara rutin menargetkan layanan email. Pada April lalu, Reuters melaporkan hacker Rusia telah membobol sejumlah akun email milik jaksa dan penyidik di seluruh Ukraina.
(fab/fab)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]